Ilustrasi. Foto: Starobserver

Melbourne seperti Kota Pelajar Yogyakarta

Dengan pemandangan penuh sesak pengunjung dengan wajah mahasiswa ini kami merasa berada di Kota Pelajar Yogyakarta.

Ditemani mahasiswi Monash University, Ana Siti Nur Khasanah, saya berkesempatan melihat Melbourne malam itu, khususnya di sekitar Flinders Street. Dengan pemandangan penuh sesak pengunjung dengan wajah mahasiswa ini kami merasa berada di Kota Pelajar Yogyakarta.

Wajar saja nampak seperti kota pelajar, Melbourne dikelilingi oleh enam universitas besar seperti University of Melbourne, Monash University, Deakin University, Royal Melbourne Institute of Technology, La Trobe University dan Victoria University.

Kata Ana, macam-macam tujuannya mereka bermalam mingguan di pusat kota ini, ada yang makan malam, ada yang ingin kumpul-kumpul, yang jelas melepas lelah setelah hampir sepekan kuliah.

Ana penerima beasiswa LPDP yang kuliah di jurusan Teaching English as a Second Language (TESOL) ini merasa betah kuliah di Monash karena banyak dijumpai masjid dan makanan halal termasuk makanan khas Indonesia juga komunitas Muslim Indonesia.

Mahasiswa Indonesia di Australia saat ini berjumlah 15,000 orang Click To Tweet

Menurut Kedutaan Besar Australia, mahasiswa Indonesia di Australia hingga saat ini berjumlah 15,000 orang. Sebagian besar mereka kuliah dengan bantuan beasiswa baik dari DIKTI, DIKTIS, LPDP, instansi pemerintah Indonesia, Australian Development Scholarship, Endeavour Scholarship, dan sebagian lainnya datang dengan biaya sendiri.

Jumlah mahasiswa Indonesia di Inggris ada sekitar 3,000 orang Click To Tweet

Adapun jumlah mahasiswa Indonesia di Inggris ada sekitar 3,000 orang seperti yang diungkapkan oleh Moazzam Malik, Duta Besar Inggris untuk Indonesia baru-baru ini di sebuah media. Sebagian mereka juga datang dengan bantuan beasiswa.

Dilihat dari jumlahnya, wajar saja Australia menjadi destinasi lebih favorit kalau dibandingkan dengan negara barat lainnya, Inggris misalnya, karena jarak dari keluarga di Indonesia dan kesempatan bekerja. Hal ini diungkapkan oleh Swasmi Sutanto, seorang mahasiswi University of Quensland, Brisbane bahwa pilihannya ke Australia dibandingkan Inggris adalah karena dua hal tersebut. Suaminya yang menemaninya tugas belajar dengan mudah mendapatkan pekerjaan paruh waktu di Brisbane.

Herru Suherman yang menemani istrinya kuliah PhD di Skotlandia, Inggris membenarkan apa yang disebut Swasmi bahwa tidak mudah mendapatkan pekerjaan di Inggris walaupun pekerjaan tanpa keterampilan khusus seperti petugas kebersihan dan pengantar surat.

Dibandingkan Inggris, biaya kesehatan jauh lebih mahal di Australia Click To Tweet

Namun demikian dibandingkan di Inggris, biaya kesehatan jauh lebih mahal di Australia. Septaliana Dewi Prananingtyas mahasiswi PhD di RMIT mengatakan bahwa biaya asuransi kesehatan yang dia bayar untuk dirinya, suami dan satu anak adalah sekitar 100 juta untuk masa empat setengah tahun.

Sedangkan biaya kesehatan di Inggris selama ini gratis hingga sejak tahun lalu yang mewajibkan setiap pemegang visa pelajar dan anggota keluarganya harus membayar 200 poundsterling atau 4 juta setahun untuk biaya kesehatan NHS.

Kendati demikian, dua negara ini masih tetap diminati oleh mahasiswa dari seluruh dunia dikarenakan beberapa universitas di sana berada di ranking atas dunia yang artinya pendidikan yang ditawarkan dipercayai sudah bermutu.

murniatimelbourne
Dr. Murniati Mukhlisin. Foto: Dok pribadi

Tulisan ini ditulis ketika saya, Murniati Mukhlisin, dosen asal Indonesia diutus oleh University of Essex, Inggris untuk menjadi salah pembicara tentang akuntansi Islam di The Eight Asia-Pacific Interdisciplinary Research in Accounting Conference. Konferensi yang diadakan sekali dalam tiga tahun ini akan berlangsung selama tanggal 13-15 Juli 2016 di kampus RMIT, Melbourne dan akan dihadiri oleh sekitar 300 dosen dan guru besar bidang akuntansi dari berbagai negara.